Dari Digital User Menuju Digital Educator

Jumat Mutu 10 Oktober 2026 YAYASAN CITRA BABUR RAHMAN MADINATUL ILMI Jum'at Mutu 16 views

Dari Digital User Menuju Digital Educator

JUMAT MUTU

Membaca Data • Merefleksikan Praktik • Menumbuhkan Mutu

Edisi #05 | Jumat, 9 Oktober 2026

Dari Digital User Menuju Digital Educator

Dr. H. Rahmadani, S.Ag., M.Pd.I.

Ketua Bidang Penjaminan dan Pengembangan Mutu Pendidikan

Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi

Hari ini, teknologi digital telah menjadi bagian dari keseharian guru. Dokumen disusun dengan Word, data diolah melalui Excel, presentasi dibuat dengan PowerPoint, bahan visual dirancang melalui Canva, komunikasi dan kolaborasi berlangsung di berbagai platform digital, sementara kecerdasan artifisial mulai memasuki ruang kerja dan ruang belajar. Pertanyaannya bukan lagi apakah guru menggunakan teknologi, melainkan bagaimana teknologi itu digunakan untuk mendidik.

Di sinilah terdapat perbedaan penting antara digital user dan digital educator. Seorang digital user mampu mengoperasikan aplikasi. Seorang digital educator melangkah lebih jauh: ia mampu memilih, menilai, dan mengintegrasikan teknologi berdasarkan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, konteks kelas, serta prinsip pedagogis.

Karena itu, kompetensi digital guru tidak seharusnya diukur dari berapa banyak aplikasi yang dikuasai. Ukurannya adalah seberapa tepat teknologi digunakan untuk membuat pembelajaran lebih bermakna, efektif, inklusif, aman, dan berpusat pada peserta didik.

Membaca Jejak Digital GTK CMI

Data Survei Pengembangan Kompetensi terhadap 156 GTK Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi (CMI) memberikan gambaran menarik. Dalam pertanyaan tentang kemampuan aplikasi/perangkat lunak, Microsoft Word disebut oleh 137 responden, Excel 110, Canva 108, PowerPoint 100, dan Google Workspace 35. Pada bagian lain, 85 GTK atau 54,5% memilih Teknologi Pendidikan sebagai salah satu kompetensi yang ingin mereka tingkatkan.

Dua kelompok data tersebut berasal dari butir instrumen yang berbeda sehingga tidak tepat diperlakukan sebagai ukuran kompetensi yang setara. Namun secara reflektif, keduanya memberi pesan penting: penggunaan perangkat digital sudah cukup dekat dengan keseharian banyak GTK, sementara kebutuhan untuk mengembangkan teknologi pendidikan tetap terasa kuat.

Ini mengingatkan kita bahwa mampu menggunakan perangkat lunak tidak otomatis sama dengan mampu menggunakannya secara pedagogis. Keterampilan teknis adalah fondasi, bukan tujuan akhir.

Ketika Teknologi Hanya Mengganti Alat

Teknologi dapat hadir di ruang kelas tanpa benar-benar mengubah pembelajaran. Papan tulis dapat diganti slide, tetapi peserta didik tetap hanya mencatat. Lembar kerja kertas dapat dipindahkan menjadi formulir digital, tetapi proses berpikir peserta didik tetap sama. Materi dapat dibuat lebih indah dengan Canva, tetapi belum tentu lebih bermakna. Bahkan AI dapat menghasilkan modul dalam hitungan detik, tetapi belum tentu membuat pengalaman belajar menjadi lebih baik.

Karena itu, pertanyaan tentang teknologi seharusnya tidak berhenti pada “aplikasi apa yang digunakan?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: masalah belajar apa yang ingin diselesaikan, aktivitas kognitif apa yang ingin dibangun, bagaimana peserta didik terlibat, dan apa nilai tambah teknologi dibandingkan cara sebelumnya?

UNESCO melalui Global Education Monitoring Report 2023 menegaskan bahwa kepentingan peserta didik harus ditempatkan di pusat dan teknologi seharusnya mendukung pendidikan berbasis interaksi manusia, bukan bertujuan menggantikannya. Pesannya sederhana tetapi fundamental: teknologi adalah alat, bukan tujuan pendidikan.

Apa yang Membuat Seorang Guru Menjadi Digital Educator?

Kerangka European Framework for the Digital Competence of Educators atau DigCompEdu membantu menjawab pertanyaan tersebut. Redecker (2017) merumuskan 22 kompetensi yang dikelompokkan dalam enam area: Professional Engagement, Digital Resources, Teaching and Learning, Assessment, Empowering Learners, serta Facilitating Learners’ Digital Competence.

Menariknya, fokus DigCompEdu bukan sekadar keterampilan teknis. Kerangka ini menempatkan teknologi dalam pekerjaan profesional dan pedagogis pendidik. Guru yang kompeten secara digital bukan hanya mampu membuat sumber digital, tetapi juga mampu memilih sumber yang sesuai, mengelolanya secara aman, menggunakan teknologi untuk mengajar dan membimbing, melakukan asesmen, memenuhi kebutuhan belajar yang beragam, serta menumbuhkan kompetensi digital peserta didik.

Dengan cara pandang ini, kemampuan membuat presentasi hanyalah sebagian kecil dari perjalanan. Digital educator bertanya apakah presentasi tersebut membantu peserta didik memahami konsep, memancing pertanyaan, memberi ruang eksplorasi, atau justru membuat mereka semakin pasif.

Hal yang sama berlaku untuk teknologi lain. Excel dapat menjadi alat administrasi, tetapi juga dapat membantu membaca data pembelajaran. Google Workspace dapat menjadi tempat menyimpan dokumen, tetapi juga dapat menjadi ruang kolaborasi. Canva dapat memperindah bahan ajar, tetapi juga dapat digunakan peserta didik untuk menciptakan representasi pengetahuan. Nilai pendidikan muncul ketika teknologi dipertemukan dengan tujuan pedagogis.

Pedagogi Sebelum Teknologi

Dalam dunia pendidikan yang dipenuhi aplikasi baru, guru mudah tergoda untuk memulai dari alat: “Apa aplikasi terbaru yang perlu saya pelajari?” Padahal urutannya sebaiknya dibalik. Mulailah dari tujuan belajar, kebutuhan peserta didik, dan strategi pedagogis; setelah itu baru tentukan apakah teknologi diperlukan dan teknologi apa yang paling tepat.

Prinsip ini semakin penting pada era AI. OECD Digital Education Outlook 2026 menunjukkan bahwa keberhasilan menyelesaikan tugas dengan GenAI tidak otomatis menghasilkan pembelajaran. Ketika teknologi digunakan tanpa panduan pedagogis, kinerja menyelesaikan tugas dapat meningkat tanpa diikuti keuntungan belajar yang nyata. OECD karena itu menekankan penggunaan GenAI secara selektif dan bertujuan, sambil menjaga agency guru dan hubungan manusia dalam pendidikan.

Dengan demikian, teknologi yang lebih canggih tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang lebih canggih. Sebaliknya, teknologi sederhana dapat memberi dampak besar ketika dipilih untuk tujuan yang tepat dan digunakan dengan desain pembelajaran yang baik.

Dari Mengoperasikan Menuju Mentransformasikan

Untuk konteks pengembangan kompetensi GTK CMI, kita dapat membayangkan perjalanan digital dalam lima tahap: Mengoperasikan → Memanfaatkan → Mengintegrasikan → Mentransformasikan → Berbagi Praktik.

Pada tahap mengoperasikan, GTK mampu menjalankan fungsi dasar aplikasi. Pada tahap memanfaatkan, teknologi membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, rapi, atau efisien. Pada tahap mengintegrasikan, teknologi mulai dipilih secara sadar sebagai bagian dari desain pembelajaran atau layanan. Pada tahap mentransformasikan, teknologi memungkinkan pengalaman yang sebelumnya sulit dilakukan: kolaborasi lintas ruang, umpan balik lebih cepat, diferensiasi, visualisasi data, penciptaan produk digital, atau eksplorasi sumber belajar yang lebih luas.

Tahap berikutnya adalah berbagi praktik. GTK yang telah menemukan penggunaan teknologi yang efektif dapat mendokumentasikan prosesnya, menunjukkan bukti manfaatnya, dan membantu rekan lain. Di sinilah Edisi #05 bertemu dengan gagasan Edisi #04 tentang Talent Pool dan budaya belajar dari guru kepada guru.

Lima tahap ini bukan instrumen pengukuran baku, melainkan peta sederhana untuk membantu kita mengubah orientasi Bangkom digital: dari pelatihan aplikasi menuju pengembangan praktik profesional.

Bangkom Digital Tidak Cukup Berjudul “Pelatihan Aplikasi”

Jika 54,5% GTK memilih Teknologi Pendidikan sebagai kebutuhan atau aspirasi pengembangan, tindak lanjutnya perlu dirancang lebih tajam. Kita tentu masih membutuhkan keterampilan teknis, terutama ketika terdapat kesenjangan kemampuan dasar. Tetapi setelah itu, Bangkom harus masuk ke persoalan pedagogis.

Sebagai contoh, pelatihan Canva tidak hanya mengajarkan membuat desain yang menarik, tetapi bagaimana prinsip visual membantu pemahaman dan bagaimana peserta didik dapat menjadi pencipta konten. Pelatihan Excel tidak hanya mengajarkan rumus, tetapi bagaimana data digunakan untuk membaca perkembangan belajar atau meningkatkan layanan. Pelatihan Google Workspace tidak hanya berisi cara berbagi file, tetapi bagaimana membangun kolaborasi. Pelatihan AI tidak hanya berisi teknik prompt, tetapi juga verifikasi, etika, privasi, desain pembelajaran, dan perlindungan proses berpikir peserta didik.

Dengan orientasi seperti itu, setiap Bangkom digital seharusnya berakhir dengan perubahan praktik yang dapat diamati. Bukan hanya “saya sudah bisa menggunakan aplikasi ini”, tetapi “saya menggunakan teknologi ini untuk memperbaiki bagian tertentu dari pembelajaran atau pekerjaan saya”.

Teknologi Harus Memperluas, Bukan Mempersempit, Kesempatan Belajar

Digital educator juga perlu peka terhadap inklusi. Tidak semua peserta didik memiliki perangkat, koneksi, kemampuan digital, kebutuhan, atau dukungan keluarga yang sama. Karena itu, keputusan menggunakan teknologi harus mempertimbangkan aksesibilitas, keamanan, privasi, kesejahteraan, dan kesetaraan kesempatan belajar.

DigCompEdu menempatkan empowering learners sebagai salah satu area utama. Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan aksesibilitas dan inklusi, melakukan diferensiasi dan personalisasi, serta mendorong keterlibatan aktif dan kreatif peserta didik. Artinya, keberhasilan digitalisasi bukan ketika semua kegiatan dipindahkan ke layar, tetapi ketika lebih banyak peserta didik memperoleh kesempatan untuk belajar dengan baik.

Prinsip ini juga menghindarkan kita dari technology for technology’s sake. Kita tidak harus menggunakan teknologi pada setiap aktivitas. Ada saat ketika diskusi tatap muka, membaca buku, menulis dengan tangan, praktik langsung, bermain, observasi lingkungan, atau percakapan guru dengan peserta didik merupakan pilihan pedagogis yang lebih tepat.

Menuju Ekosistem Digital yang Belajar

Transformasi digital di CMI tidak perlu dimaknai sebagai perlombaan menguasai sebanyak mungkin aplikasi. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem tempat GTK terus belajar memilih teknologi secara kritis, mencoba penggunaannya, mengevaluasi dampaknya, dan membagikan praktik yang terbukti bermanfaat.

Data kemampuan aplikasi dapat menjadi titik awal pemetaan. Data kebutuhan pengembangan dapat membantu menentukan prioritas. Talent Pool internal dapat mendukung peer learning. Evaluasi 30–60 hari setelah Bangkom, sebagaimana dibahas pada Edisi #03, dapat digunakan untuk melihat apakah teknologi benar-benar berpindah dari ruang pelatihan ke praktik kerja.

Dengan demikian, perjalanan digital CMI dapat dibaca sebagai perjalanan mutu: dari mampu menggunakan alat menuju mampu menciptakan nilai pendidikan dengan alat tersebut.

Dari Digital User Menuju Digital Educator

Kita tidak perlu meremehkan keterampilan teknis. Setiap perjalanan digital memang dimulai dari kemampuan mengoperasikan alat. Tetapi kita juga tidak boleh berhenti di sana.

Guru yang mampu membuat slide adalah digital user. Guru yang mampu menentukan kapan slide membantu pemahaman dan kapan harus meninggalkannya mulai berpikir sebagai digital educator. Guru yang mampu menggunakan teknologi untuk membuat peserta didik berpikir, mencipta, berkolaborasi, memperoleh umpan balik, dan belajar secara lebih inklusif telah membawa teknologi ke wilayah pedagogi.

Pada akhirnya, ukuran transformasi digital pendidikan bukan banyaknya aplikasi yang kita gunakan, melainkan kualitas pengalaman belajar dan layanan yang berhasil kita bangun.

Teknologi boleh berubah sangat cepat. Aplikasi yang populer hari ini mungkin berganti beberapa tahun lagi. Tetapi kemampuan untuk menetapkan tujuan, membaca kebutuhan peserta didik, menilai manfaat dan risiko, serta membuat keputusan pedagogis akan tetap menjadi kompetensi inti seorang pendidik.

Pertanyaan Jumat Mutu

Teknologi yang kita gunakan hari ini, apakah benar-benar mengubah cara peserta didik belajar, atau hanya mengubah cara kita menyampaikan materi?

Jika jawabannya masih lebih banyak pada yang kedua, itu bukan alasan untuk menjauhi teknologi. Itu adalah undangan untuk naik satu tingkat: dari sekadar digital user menuju digital educator.

Karena teknologi terbaik dalam pendidikan bukanlah teknologi yang paling baru atau paling canggih, melainkan teknologi yang digunakan secara tepat untuk membantu manusia belajar dan bertumbuh.

Referensi Pilihan

Redecker, C. (2017). European framework for the digital competence of educators: DigCompEdu (Y. Punie, Ed.). Publications Office of the European Union. https://doi.org/10.2760/159770

UNESCO. (2023). Global education monitoring report 2023: Technology in education - A tool on whose terms? UNESCO. https://doi.org/10.54676/UZQV8501

OECD. (2026). OECD Digital Education Outlook 2026: Exploring effective uses of generative AI in education. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/062a7394-en

Catatan editorial: Angka penggunaan aplikasi dan pilihan Teknologi Pendidikan berasal dari butir survei yang berbeda. Data tersebut digunakan untuk membaca kecenderungan dan kebutuhan pengembangan, bukan untuk menyimpulkan tingkat kompetensi digital individu. Data bersumber dari Survei Pengembangan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi, n = 156.

JUMAT MUTU

Membaca Data • Merefleksikan Praktik • Menumbuhkan Mutu


Bagikan: