Public Speaking Bukan Hanya Berani Bicara

Jumat Mutu 16 Oktober 2026 YAYASAN CITRA BABUR RAHMAN MADINATUL ILMI Jum'at Mutu 45 views

Public Speaking Bukan Hanya Berani Bicara

JUMAT MUTU

Membaca Data • Merefleksikan Praktik • Menumbuhkan Mutu

Edisi #06 | Jumat, 16 Oktober 2026

Public Speaking Bukan Hanya Berani Bicara

Dr. H. Rahmadani, S.Ag., M.Pd.I.

Ketua Bidang Penjaminan dan Pengembangan Mutu Pendidikan

Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi

Seorang guru berbicara hampir setiap hari. Ia membuka pembelajaran, menjelaskan konsep, memberi instruksi, bertanya, menanggapi jawaban, memberi koreksi, memotivasi, berdiskusi dengan kolega, berkomunikasi dengan orang tua, dan sesekali mempresentasikan program di depan forum. Karena frekuensi berbicara begitu tinggi, kita mudah berasumsi bahwa guru dengan sendirinya adalah komunikator yang efektif.

Tetapi sering berbicara tidak otomatis berarti mampu berkomunikasi dengan baik. Seseorang dapat berbicara panjang tetapi pesan utamanya tidak tertangkap. Presentasi dapat terlihat percaya diri tetapi audiens tidak mengetahui apa yang harus dipahami atau dilakukan. Sebaliknya, komunikasi yang singkat dapat sangat kuat ketika pesannya jelas, penyampaiannya tepat, dan relasinya terjaga.

Dalam Survei Pengembangan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi (CMI), 65 dari 156 GTK atau 41,7% memilih Public Speaking sebagai salah satu kompetensi yang ingin mereka tingkatkan. Angka ini bukan ukuran bahwa 41,7% GTK memiliki kemampuan komunikasi yang rendah. Ia merupakan aspirasi pengembangan yang justru memperlihatkan kesadaran bahwa kemampuan berbicara dan berkomunikasi memiliki nilai profesional.

Karena itu, public speaking bagi pendidik perlu ditempatkan lebih luas daripada keberanian berdiri di depan orang banyak. Ia adalah kemampuan membuat pesan dipahami, dipercaya, dan—ketika diperlukan—menggerakkan orang lain secara tepat.

Berbicara Tidak Sama dengan Berkomunikasi

Dalam komunikasi profesional, ukuran keberhasilan bukan berapa banyak kata yang keluar dari pembicara, tetapi apa yang terjadi pada penerima pesan. Apakah ia memahami? Apakah ia mengetahui bagian yang penting? Apakah ia merasa dihargai? Apakah ia mengetahui langkah berikutnya?

Di ruang kelas, misalnya, guru dapat menjelaskan materi dengan sangat lancar. Namun kelancaran berbicara belum menjamin kejelasan belajar. Kajian Xie dan Derakhshan (2021) tentang komunikasi interpersonal guru menunjukkan pentingnya perilaku seperti clarity, credibility, rapport, care, immediacy, dan confirmation dalam mendukung berbagai hasil belajar dan keterlibatan peserta didik. Artinya, komunikasi pembelajaran memiliki dimensi retoris sekaligus relasional.

Karena itu, public speaking pendidik tidak boleh hanya dilatih pada volume suara, kontak mata, gestur, atau keberanian tampil. Semua itu penting, tetapi harus diarahkan kepada tujuan yang lebih besar: membantu orang lain memahami dan membangun hubungan yang memungkinkan pesan diterima secara konstruktif.

Tiga Lapis Komunikasi Pendidik: Pesan, Penyampaian, Relasi

Saya melihat komunikasi pendidik setidaknya memiliki tiga lapis yang tidak dapat dipisahkan: Pesan → Penyampaian → Relasi.

Lapisan pertama adalah pesan. Pesan yang baik memiliki tujuan, struktur, prioritas, dan bahasa yang sesuai audiens. Guru perlu mengetahui apa satu gagasan utama yang harus dibawa pulang peserta didik. Dalam rapat, pemimpin perlu membedakan mana informasi, mana keputusan, dan mana tindak lanjut. Dalam komunikasi dengan orang tua, informasi perlu disampaikan secara faktual tanpa menghilangkan penghargaan terhadap anak.

Lapisan kedua adalah penyampaian. Di sinilah unsur public speaking yang lebih dikenal bekerja: intonasi, artikulasi, tempo, jeda, volume, bahasa tubuh, kontak mata, contoh, dan signposting. Signposting—misalnya “ada tiga hal yang perlu kita perhatikan”—membantu audiens mengikuti struktur pesan, bukan sekadar mendengar rangkaian kalimat.

Lapisan ketiga adalah relasi. Komunikasi pendidikan berlangsung antarmanusia. Nada suara, pilihan kata, kemampuan mendengarkan, cara menanggapi kesalahan, dan cara menyampaikan koreksi ikut menentukan apakah komunikasi membangun kepercayaan atau justru menciptakan jarak.

Ketiga lapis ini menjelaskan mengapa pembicara yang sangat fasih belum tentu menjadi komunikator pendidikan yang efektif. Kejelasan pesan, kualitas penyampaian, dan penghargaan terhadap relasi harus hadir bersama.

Public Speaking adalah Kompetensi Pedagogis

Ketika guru berbicara di kelas, tujuannya bukan mempertontonkan keluasan pengetahuan. Tujuannya adalah membantu peserta didik belajar. Karena itu, komunikasi guru perlu mengundang perhatian, membangun rasa ingin tahu, memberi struktur pada pemikiran, membuka ruang pertanyaan, dan memberikan umpan balik yang membuat peserta didik berkembang.

Penelitian tentang komunikasi interpersonal guru memperlihatkan bahwa komunikasi positif berkaitan dengan motivasi, engagement, kemauan berkomunikasi, performa, dan keberhasilan akademik. Sementara itu, kajian sistematis Karasova dan Nehyba (2023) menegaskan pentingnya komunikasi yang student-centered dalam pengelolaan perilaku kelas dan pembentukan lingkungan belajar yang positif.

Di sini terdapat pergeseran penting: guru tidak sekadar bertanya “bagaimana agar saya berbicara menarik?”, tetapi “bagaimana komunikasi saya membantu peserta didik berpikir dan belajar?”. Pertanyaan kedua jauh lebih pedagogis.

Ketika Audiensnya adalah Orang Tua

Kompetensi komunikasi guru diuji secara berbeda ketika berhadapan dengan orang tua. Ada saat ketika guru menyampaikan perkembangan yang menggembirakan, tetapi ada pula saat ketika harus membicarakan kesulitan belajar, perilaku, kedisiplinan, atau perbedaan harapan.

Dalam situasi seperti itu, public speaking bertemu dengan active listening. Komunikasi tidak lagi satu arah. Guru perlu mendengarkan sebelum menyimpulkan, memisahkan fakta dari asumsi, menggunakan bahasa yang solutif, dan memastikan percakapan berakhir dengan pemahaman mengenai tindak lanjut.

Meta-analisis Smith dan kolega (2020) terhadap intervensi kemitraan keluarga-sekolah menemukan dampak positif terhadap capaian akademik dan sosial-emosional anak; komponen relasional seperti komunikasi sekolah-ke-rumah, kolaborasi, dan komunikasi dua arah berkontribusi terhadap efek tersebut. Temuan ini memperkuat pesan bahwa kualitas komunikasi dengan keluarga bukan pekerjaan tambahan di luar pendidikan. Ia merupakan bagian dari ekosistem pendidikan anak.

Karena itu, kemampuan menyampaikan informasi kepada orang tua perlu dibarengi kemampuan membangun dialog. Tujuannya bukan memenangkan percakapan, tetapi membangun kesepahaman demi kepentingan peserta didik.

Komunikasi adalah Instrumen Kepemimpinan

Kepemimpinan hampir selalu bekerja melalui komunikasi. Kepala sekolah menjelaskan arah. Koordinator membagi peran. Wali kelas membangun kesepahaman. Guru menggerakkan peserta didik. Tenaga kependidikan memberi layanan. Bahkan kebijakan yang baik dapat gagal dipahami ketika komunikasinya tidak jelas.

Pemimpin yang komunikatif bukan berarti harus menjadi pembicara yang paling banyak berbicara. Ia perlu mampu menjelaskan mengapa sesuatu dilakukan, apa yang diharapkan, siapa melakukan apa, dan bagaimana keberhasilan akan dilihat. Ia juga perlu menciptakan ruang agar orang lain dapat menyampaikan informasi, pertanyaan, dan keberatan.

Dengan demikian, public speaking dan kepemimpinan bertemu pada kemampuan membangun makna bersama. Pesan yang jelas mengurangi kebingungan; dialog yang sehat mengurangi asumsi; komunikasi yang konsisten memperkuat kepercayaan.

Dari Percaya Diri Menuju Berdampak

Kepercayaan diri tetap penting. Banyak orang memiliki gagasan baik tetapi kesulitan menyampaikannya karena gugup atau tidak terbiasa berbicara di depan forum. Namun kepercayaan diri sebaiknya diperlakukan sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Tujuan public speaking bukan membuat pembicara terlihat hebat. Tujuannya membuat audiens memperoleh sesuatu yang bernilai.

Karena itu, orientasi latihan perlu bergeser dari speaker-centered menuju audience-centered communication. Sebelum berbicara, seorang pendidik dapat bertanya: siapa audiens saya? Apa yang sudah mereka ketahui? Apa yang mereka butuhkan? Apa satu pesan yang harus mereka pahami? Respons apa yang saya harapkan?

Pertanyaan sederhana tersebut membuat komunikasi menjadi lebih terarah. Guru tidak lagi berbicara untuk menyelesaikan materi, tetapi untuk memastikan pesan memperoleh makna bagi penerimanya.

Bagaimana Bangkom Public Speaking CMI Sebaiknya Dirancang?

Data 41,7% memberi sinyal bahwa Public Speaking layak menjadi salah satu agenda pengembangan kompetensi GTK CMI. Namun desainnya sebaiknya tidak didominasi ceramah tentang teknik berbicara. Kompetensi komunikasi tumbuh melalui praktik, umpan balik, refleksi, dan praktik ulang.

Salah satu tangga perkembangan yang dapat digunakan adalah: Berani Bicara → Bicara Terstruktur → Bicara Dipahami → Membangun Relasi → Menggerakkan Tindakan.

Pada tahap awal, GTK dapat berlatih micro speaking selama dua atau tiga menit. Tahap berikutnya menekankan struktur pesan: pembukaan, gagasan utama, bukti atau contoh, dan penutup. Latihan kemudian bergerak ke situasi nyata: membuka pembelajaran, menjelaskan konsep sulit, menyampaikan perkembangan anak kepada orang tua, menangani keluhan, memimpin rapat singkat, atau mempresentasikan program.

Rekaman video dapat digunakan sebagai alat refleksi. Peer feedback membantu peserta melihat hal yang tidak disadari ketika berbicara. Role play membuat peserta menghadapi respons audiens yang tidak selalu sesuai harapan. Coaching membantu memperbaiki aspek spesifik secara bertahap.

Dengan desain seperti ini, Bangkom tidak hanya menghasilkan peserta yang “sudah mengikuti pelatihan public speaking”, tetapi GTK yang menunjukkan perubahan nyata dalam cara menyampaikan pesan dan membangun interaksi profesional.

Komunikasi yang Baik Juga Dimulai dari Mendengarkan

Ada paradoks dalam public speaking: semakin matang seseorang berkomunikasi, semakin ia menyadari bahwa berbicara bukan satu-satunya keterampilan penting. Mendengarkan justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Guru perlu mendengarkan pertanyaan peserta didik sebelum menjawab. Wali kelas perlu mendengarkan orang tua sebelum menawarkan solusi. Pemimpin perlu mendengarkan tim sebelum mengambil kesimpulan. Tenaga kependidikan perlu memastikan kebutuhan pengguna layanan sebelum memberikan respons.

Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui. Active listening berarti berusaha memahami pesan, konteks, dan kepentingan pihak lain sebelum memberikan respons. Dalam banyak situasi, kualitas jawaban sangat ditentukan oleh kualitas kita mendengarkan.

Karena itu, komunikasi profesional bukan kompetisi tentang siapa yang paling pandai bicara. Ia adalah kemampuan membangun pertukaran makna yang jernih, saling menghargai, dan berorientasi pada penyelesaian.

Ketika Kata-Kata Menjadi Bagian dari Mutu

Mutu pendidikan sering dibicarakan melalui kurikulum, sarana, kompetensi, asesmen, dan capaian belajar. Tetapi mutu juga hadir dalam percakapan sehari-hari: bagaimana guru menjelaskan, bagaimana sekolah menjawab pertanyaan orang tua, bagaimana pimpinan menyampaikan keputusan, bagaimana petugas melayani, dan bagaimana kita memberikan koreksi kepada rekan kerja.

Kata-kata dapat menjelaskan atau membingungkan. Nada suara dapat menenangkan atau memperuncing masalah. Sebuah pesan dapat membangun kepercayaan atau justru menimbulkan salah tafsir.

Karena itu, investasi pada kompetensi komunikasi bukan sekadar investasi agar GTK lebih percaya diri tampil di depan publik. Ia merupakan investasi pada kualitas pembelajaran, layanan, relasi, dan kepemimpinan.

Guru yang baik bukan hanya memiliki sesuatu untuk disampaikan, tetapi mampu membuat orang lain memahami apa yang ia sampaikan dan merasakan bahwa dirinya dihargai dalam proses komunikasi itu.

Pertanyaan Jumat Mutu

Ketika kita selesai berbicara, apakah orang lain hanya mendengar kata-kata kita, atau benar-benar memahami pesan yang ingin kita sampaikan?

Mungkin ukuran komunikasi yang baik bukan seberapa lama kita berbicara atau seberapa menarik kita tampil. Ukurannya adalah apakah setelah percakapan itu orang menjadi lebih memahami, lebih percaya, lebih mampu bertindak, dan tetap merasa dihargai.

Karena dalam pendidikan, kata-kata bukan hanya suara. Kata-kata adalah bagian dari cara kita mendidik.

Referensi Pilihan

Karasova, J., & Nehyba, J. (2023). Student-centered teacher responses to student behavior in the classroom: A systematic review. Frontiers in Education, 8, 1156530. https://doi.org/10.3389/feduc.2023.1156530

Smith, T. E., Sheridan, S. M., Kim, E. M., Park, S., & Beretvas, S. N. (2020). The effects of family-school partnership interventions on academic and social-emotional functioning: A meta-analysis exploring what works for whom. Educational Psychology Review, 32, 511–544.

Smith, T. E., Holmes, S. R., Romero, M. E., & Sheridan, S. M. (2022). Evaluating the effects of family-school engagement interventions on parent-teacher relationships: A meta-analysis. School Mental Health, 14, 278–293.

Xie, F., & Derakhshan, A. (2021). A conceptual review of positive teacher interpersonal communication behaviors in the instructional context. Frontiers in Psychology, 12, 708490. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.708490

Catatan editorial: Angka 41,7% menunjukkan proporsi responden yang memilih Public Speaking sebagai salah satu kebutuhan/aspirasi pengembangan kompetensi. Angka tersebut tidak digunakan sebagai ukuran langsung rendah atau tingginya kemampuan komunikasi GTK. Data bersumber dari Survei Pengembangan Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan Yayasan Citra Babur Rahman Madinatul Ilmi, n = 156.

JUMAT MUTU

Membaca Data • Merefleksikan Praktik • Menumbuhkan Mutu


Bagikan: